Menu

Simak : Bali International Open Piano Competition II Digelar September Ini

Bali International Open Piano Competition (Foto: Kemenpar)

Simak – Denpasar Anda termasuk orang yang hobi berlibur ke Bali? Yuk kembali luangkan waktu untuk berlibur ke Bali. Sekarang Bali punya magnet gres yang dinamakan Pesona Bali International Open Piano Competition II 2017.

“Kami pilih Bali sebagai kawasan penyelenggaraan alasannya ialah Bali ialah destinasi terbaik dunia 2017 versi TripAdvisor. Sekaligus mempromosikan destinasi utama pariwisata,” kata Ketua Panpel dari Opus Nusantara Eleonora Aprilita S dalam keterangan tertulisnya, Jumat (1/9/2017).

Nora, sapaan erat Eleonora Aprilita S, mengaku ingin mengulang sukses penyelenggaraan kompetisi piano tahun kemudian yang juga digelar di Bali.

Tahun lalu, kompetisinya digelar sangat unik. Para pianis dan pemain violin banyak yang tampil dengan pakaian tradisional Bali. Lengkap dengan udeng (penutup kepala khas Bali), sarung, dan baju khas budaya Pulau 1000 Pura itu.

Tahun lalu, pianis cilik asal Bali menggetarkan dunia dan menciptakan nama Bali terdengar nyaring. Hal itu terjadi dikala Joey Alexander Sila tampil memukau dalam program pembukaan ajang penghargaan musik terbesar Amerika Serikat Grammy Awards 2016.

“Ini bukti Indonesia punya masa depan baik untuk menelurkan bakat di bidang musik klasik. Semoga kecemerlangan Joey Alexander bisa menginspirasi belum dewasa muda untuk terus berlatih dan memainkan jari-jemarinya untuk membawa Indonesia populer di mancanegara,” lanjutnya.

Dalam kompetisi piano yang digelar pada 23-24 September 2017 di Padma Resort Legian Bali.

akan ada 12 kategori yang akan dipertandingkan. Untuk kategori lagu pilihan terbagi dalam 6 kategori yaitu A: usia maksimal 7 tahun, B: usia 8-9, C:usia 10-11, D: usia 12-14, E:usia 15-17, dan F: usia minimal 18 tahun.

“Kemudian ada enam Kategori Bebas, Bebas A-F, mereka akan berkompetisi memainkan tuts-tuts piano dengan tema zaman barok, karya komposer tahun 1600–1750, zaman klasik karya komposer tahun 1750–1820 , zaman romantik karya komposer sekitar awal 1800-1900, dan zaman modern karya komposer pada periode 20 -21,” terangnya.

Kompetisi akan dilaksanakan dalam 2 babak. Di babak penyisihan akseptor harus memainkan 1 lagu. Lalu akseptor yang terpilih untuk tampil di babak berikutnya harus memainkan 1 lagu. Lagu yang dimainkan di babak selesai dihentikan sama dengan yang dimainkan di babak penyisihan.

“Peserta boleh mengikuti beberapa kategori di kelompok umur sesuai usianya atau satu kelompok umur di atasnya,” tambahnya.

Semua akseptor kompetisi akan mendapat akta partisipasi. “Dewan juri akan mengumumkan 3 pemenang untuk setiap kategori dan perhiasan 3 keinginan untuk kategori A-E. Pemenang akan mendapat piala, akta kemenangan, dan hadiah dari sponsor,” imbuh Nora.

Pesertanya ditargetkan bisa mencapai 160 kontestan. “Jumlah ini niscaya akan meledak. Tahun kemudian juga banyak yang tidak bisa ikut alasannya ialah kuota telah penuh. Pendaftaran akan kami tutup pada 8 September mendatang. Saat ini sudah banyak akseptor luar negeri yang mendaftar menyerupai dari Jerman, Australia, Korea, dan China,” jelasnya.

Bagi Kementerian Pariwisata, kompetisi piano ini nyata menunjukkan pengaruh pribadi maupun tidak langsung. Tahun lalu, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Nusantara Kemenpar Esthy Reko Astuti juga hadir di kompetisi yang diikuti banyak pianis cilik dari mancanegara.

Tahun ini, selain dilangsungkan di Bali juga akan pentaskan di Batam. Hal itu untuk menarik wisman dengan spending besar dari Singapura dan Malaysia.

Bahkan, lebih dari 30 pianis-pianis Vietnam sudah mendaftarkan diri. Pianis cilik yang akan tampil di kompetisi niscaya selalu membawa rombongan keluarganya, baik ayah, ibu, kakek, nenek, kakak, atau adik mereka.

“Kita dukung atraksi yang populer diseluruh dunia menyerupai kompetisi piano berlevel internasional ini. Terlebih venue Bali punya daya magis bagi peserta. Peserta niscaya antusias mengikuti kompetisi yang ada di destinasi wisata. Mereka jauh-jauh hari sudah booking kamar hotel, sekaligus berwisata keluarga, tentu sangat menguntuntungkan bagi Pariwisata Bali dan Indonesia,” kata Esthy.

Saat berkompetisi, umumnya pianis kelompok usia 7 hingga 18 tahun diantar oleh seluruh keluarga dan sanak keluarga sebagai pendukung. Kaprikornus jangan heran kalau satu akseptor bisa membawa 5-10 keluarganya.

“Sambil mendukung putra putrinya, bisa sekalian piknik. Kalau akseptor sekitar 160 orang, maka diperkirakan audience-nya sekitar 1.000 orang. Event ini bisa men-drive keluarga besar akseptor untuk terbang dan menikmati destinasi wisata di Bali,” ucapnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya juga seirama. Menurutnya, Bali memang disiapkan untuk menggelar, mengakomodir, dan melakukan event apa pun. Begitu juga dengan musik, program ini sangat sempurna alasannya ialah musik ialah bahasa universal yang akan menunjukkan pengaruh yang sangat positif untuk dunia luar.

“Setelah program ini, niscaya mereka akan mengenang Bali dengan musik klasiknya dan juga akan kembali ke Bali,” tukasnya.

Arief mengungkapkan, Bali, Jakarta, dan Kepri (Batam dan Bintan) merupakan pintu masuk turis ke Tanah Air yang menyumbang wisman sebanyak 40%.

“Produk portofolio pariwisata Indonesia itu wisata budaya. Bali ialah salah satu sentra wisata budaya di Tanah Air yang banyak menggelar event kelas dunia. Selamat berkompetisi, silakan bawa musik klasik kita mendunia,” pungkasnya.